September 25 2017 11:19 AM
Umum

0 297

1011652_510825662324802_1622272299_nGerak harga emas berjangka telah dilaporkan bergerak turun di bawah level harga $ 1.200 US/ ons pada perdagangan hari Kamis malam, atau masuk hari Jumat pagi ini. Hal tersebut terjadi, setelah adanya keputusan dari ECB untuk menaikkan jumlah angka stimulus menjadi 60 miliar euro pada pertemuan semalam. Kondisi ini tentunya membawa nilai apresiasi mata uang USD jadi bergerak lebih tinggi, dan menjadikan mata uang euro tertekan hingga mencapai level terendah sejak September 2003.

Selain adanya kondisi itu, perlemahan gerak harga emas juga diakibatkan oleh adanya faktor lain. Faktor tersebut adalah, dengan adanya keputusan negara China untuk memangkas target pertumbuhan ekonominya ke level terendah dalam lebih dari dua dekade. Perdana Menteri China, Li Keqiang, berkeputusan untuk memangkas target pertumbuhan ekonomi China menjadi 7 %, dari 7,4 % pada tahun lalu. Target baru tersebut merupakan target gerak pertumbuhan ekonomi terendah yang pernah terjadi di China sejak tahun 1990. Negara yang juga dikenal dengan istilah negeri Tirai Bambu ini memang dikenal sebagai konsumen terbesar kedua dalam hal pembelian emas di dunia setelah negara India. Li Keqiang menjelaskan, target pada tahun ini memang sejalan dengan ekspektasi pasar dan sesuai dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2014. Pada tahun lalu, tercatat bahwa ekonomi negara tersebut tumbuh paling lambat dalam 24 tahun terakhir dan realisasinya pun berada di bawah target dari pemerintah China tetapkan di awal tahun. Target pertumbuhan ekonomi negara China pada tahun lalu sebesar 7,5 %. Sedangkan pada realisasinya, yang terjadi adalah ternyata yang dicapai hanyalah sebesar 7,4 %. Realisasi tersebut juga mengalami penurunan jika dibanding ada laporan tahun 2013 yaitu sebesar 7,7 %. Dilansir dari Nasdaq.com hari Jumat, 06/ 03/ 2015, dilaporkan bahwa di Divisi Comex New York Mercantile Exchange, harga emas untuk pengiriman April turun senilai $ 4,6 US atau 0,38 % menjadi $ 1.196,30 US/ ons. Gerak penurunan harga yang cukup tajam tersebut terjadi dalam dua hari berturut-turut. Harga emas berjangka kemungkinan besar akan menuju level support US$ 1.194,6 per ons, terendah sejak 3 Maret dan resistance US$ 1.223 per ons, tertinggi sejak 2 Maret. Komoditas emas kehilangan daya tarik bagi sebagian pelaku pasar, dan mereka umumnya memilih berspekulasi di pasar saham dan obligasi.

Dilaporkan juga dari Amerika, bahwa pada sesi pasar Amerika yang terjadi adalah para pelaku pasar masih menunggu rilis laporan pekerjaan bulan Februari pada Jumat ini. Pada hari Kamis kemarin, Departemen Tenaga Kerja Amerika menyatakan bahwa jumlah penduduk Amerika yang mengajukan klaim baru untuk pengangguran meningkat ke level tertinggi sejak bulan Mei. Pengajuan pengangguran di pekan yang berakhir pada 28 Februari telah naik sebanyak 7.000 jiwa pada minggu lalu untuk total musiman disesuaikan 320 ribu. Pada hari ini, gerak harga emas diperkirakan akan diperdagangkan pada kisaran yang besar. Adanya rilis data Non-Farm Payrolls Amerika akan jadi fokus utama para pelaku pasar selama sesi perdagangan Amerika nanti.

0 232

1613975_678907712167263_2080419318_nMata uang USD masih mendominasi tekanannya baik terhadap major currencies maupun komoditas. Telah dilaporkan bahwa mata uang USD bergerka menguat pada sesi dua pasar amerika, setelah data PMI Manufaktur Amerika dirilis dengan hasil yang cukup baik dan diikuti oleh pengautan mata uang USD mendekati level tertinggi sejak Januari. Dalam data akhir sesi semalam menunjukkan bahwa PMI Manufaktur Amerika naik pada level 55.1. data dirilis lebih tinggi dari perkiraan dan data sebelumnya pada 54.3 (F) dan 54.3 (P). Telah dilaporkan pula bahwa bursa saham Amerika bergerak menguat bahkan mencetak rekor pada perdagangan saham awal pekan ini.

Telah dilaporkan bahwa Aussie, mata uang Australia itu lazim disebut, telah bergerak menguat. Mata uang Australia tersebut melesat ke kisaran angka 0.7810 apresiasinya, setelah keputusan bank sentral Australia mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 2,25%. Berdasarkan rilis laporan pertemuannya, Reserve Bank of Australia (RBA) mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan mencapai target inflasi. Keputusan tersebut akan dibicarakan pada pertemuan selannjutnya. Reserve Bank of Australia (RBA) menitikberatkan adanya risiko dari sektor properti dengan tren harga perumahan yang beragam di beberapa kota dalam beberapa bulan belakangan. Variasi harga dalam pasar perumahan dapat menjadi sinyal belum stabilnya perekonomian negeri Kangguru tersebut. RBA juga masih melihat tren pertumbuhan domestik yang masih cukup lemah dengan tingkat pengangguran beranjak naik dalam beberapa tahun terakhir. Namun pelemahan nilai tukar domestiknya dianggap akan menjadi kunci untuk menstabilkan perekonomian negara komoditas ini. Rendahnya nilai tukar Aussie dibandingkan negara lain seharusnya dapat mengangkat tingkat ekspornya. Harga komoditas Australia turun 20,6% di bulan Februari, lebih rendah dari penurunan 19,2% di awal tahun. Dilaporka bahwa apresiasi mata uang AUD/USD bertahan di kisaran 0.7810, setelah sempat melesat ke level 0.7839 sesaat setelah keputusan RBA. Sebelum pertemuan, Aussie bertahan di dekat level 0.7770. Dari China dilaporkan, Pemerintah China memutuskan melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga. The People`s Bank of China secara mengejutkan menurunkan suku bunga pinjaman satu tahun dan suku bunga deposito menjadi 5,35 % dan 2,5 %. Langkah itu dilakukan karena meningkatnya tekanan deflasi. Laporan dari PBOC murunkan suku bunga acuan sebesar 25 Bps.

Sementara ini, para pelaku pasar juga masih rentan lakukan aksi jual dalam apresiasi cross mata uang EUR/ JPY. Telah dilaporkan bahwa, angka konsumen zona eropa turun 0,3 % pada Februari 2015 year on year (YoY). Pengangguran di Uni Eropa turun menjadi 11,2 % pada Januari 2015. Manufaktur PMI zona Euro tercatat naik menjadi 51,1 pada Februari 2015. Secara analisa dengan menggunakan acuan grafik 30 menit, untuk apresiasi perdagangan cross mata uang EUR/ JPY tengah mengindikasikan bahwa tekanan jual masih dominan menuju target terdekat di 133.79. Jika seller mendominasi di bawah level tersebut maka memungkinkan akan mengusik target berikutnya di 133.29. Kegagalan skenario tersebut akan mengembalikan EUR/ JPY pada posisi rally menuju level 134.41 hingga level kritis di 134.60. Pergerakkan mata uang USD diperkirakan akan menjadi fokus para pelaku pasar pada sesi perdagangan hari ini.

RANDOM POSTS

0 29
Kepribadian Seorang Trader Sebagai seorang trader, fokus Anda biasanya adalah pada indikator, aksi harga (price action) dan interpretasi fundamental. Ketika Anda trading (open posisi) berdasarkan...
ib insta