Dolar AS Menguat Melawan Yen, Euro dan Sterling

Dolar AS Menguat Melawan Yen, Euro dan Sterling

0 184
ib insta

Dolar menguat melawan yen dan euro pada hari Senin seiring pernyataan pemimpin Jepang, dan euro terkoreksi setelah menyentuh puncak tertinggi 3,5 bulan.

Yen saat ini naik 0,5 persen di area $ 113,92 pada pukul 16:50 wib, setelah sebelumnya menguat 0,8 persen.

Pagi ini dilaporkan PDB Jepang mengalami kontraksi 0,4% (per kuartal), atau tahunan 1,4%, pada kuartal keempat tahun lalu, dengan belanja konsumen yang melamban di tengah pemulihan upah yang lambat dan prospek pertumbuhan yang tidak pasti. Kenaikan tak terduga dalam investasi bisnis sebanding dengan penurunan komponen kunci lain dari kalkulasi produk domestik bruto.

Gubernur PBOC peringatkan spekulan

Pagi ini China juga melaporkan data perdagangan untuk bulan Januari dengan ekspor terlihat turun 1,9% (tahunan), dan impor turun 0,8% untuk neraca perdagangan dari $ 58,85 miliar. Namun, Biro Statistik Nasional China tidak merilis penjualan ritel, produksi industri atau investasi aset tetap pekan ini karena waktu liburan Tahun Baru Imlek, yang berubah setiap tahun, mendistorsi data terlalu banyak untuk membuat perbandingan yang berarti.

Pada masa liburan tersebut Gubernur Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaochuan mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa tidak ada dasar untuk penyusutan yuan lebih lanjut. Dalam sebuah wawancara dengan majalah keuangan Caixin, Zhou berbicara memberi peringatan bahwa PBOC tidak akan membiarkan spekulan mendominasi sentimen pasar dan mempermainkan kekhawatiran atas penurunan tajam cadangan devisa mata uang asing di negara tersebut selama beberapa bulan terakhir.

Minyak sedikit turun setelah data Jepang

Sementara itu minyak mentah melemah lagi di Asia hari ini juga bekaitan dengan Jepang yang melaporkan ekonomi mengalami kontraksi pada kuartal keempat. Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah untuk pengiriman Maret turun 1,34% menjadi $ 29,05 per barel. Pekan lalu, harga minyak mempertontonkan reli dramatis pada hari Jumat, dengan patokan AS membukukan kenaikan terbesar satu hari dalam tujuh tahun seiring hadirnya kemungkinan baru pemotongan produksi yang terkoordinasi hingga mendorong investor untuk menutup taruhan tentang peluang harga yang lebih rendah.

Harga minyak mentah menerima dorongan menyusul laporan di akhir Kamis bahwa anggota OPEC sedang mempersiapkan untuk bekerja sama pada pengurangan produksi potensial, demikian menurut menteri energi Uni Emirat Arab Suhail bin Mohammed al-Mazrouei. UEA dianggap sebagai roda penggerak utama bagi anggota OPEC yang lebih kecil yang sudah putus asa dengan ekspektasi kenaikan harga minyak, mengingat keengganan OPEC untuk memangkas output dalam beberapa bulan terakhir. Kesepakatan pemagkasan produksi memerlukan persetujuan dari Arab Saudi, eksportir terbesar di dunia.

Perdagangan berjangka komoditas ini menerima dorongan lebih lanjut setelah kelompok riset industri Baker Hughes mengatakan Jumat malam bahwa jumlah rig pengeboran minyak di AS mengalami penurunan di pekan lalu. Namun meskipun terjadi kenaikan kuat di hari Jumat, berjangka minyak yang diperdagangkan di New York turun $ 1,53, atau 4,69%, pada minggu lalu, kerugian mingguan kedua berturut-turut. Di tempat lain, di ICE Futures Exchange di London, minyak Brent untuk pengiriman April melonjak $ 3,30, atau 10,98%, pada sesi Jumat untuk menutup minggu tersebut di $ 33,36 per barel. Harga Brent turun hampir 13% pada tahun 2016 karena investor khawatir bahwa kelebihan pasokan minyak mentah bertepatan dengan perlambatan ekonomi global.

Pada minggu ini investor dan pelaku perdagangan di bursa komoditas akan mengamati data inflasi AS untuk indikasi apakah Federal Reserve akan menaikkan suku dalam tahun ini. Pasar juga akan memperhatikan Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi dalam kesaksiannya tentang kebijakan moneter pada Komite Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa, di Brussels. Hari ini pasar di AS dan Kanada akan ditutup untuk libur nasional.

Euro juga turun sekitar 0,3 persen ke $ 1,1204, setelah diakhir pekan juga turun 0,6 persen.

Sterling turun 0,2 persen ke area $ 1,4471.

Dolar Australia mengabaikan data perdagangan China yang suram dan keuntungan dari peningkatan risk appetite, naik 0,3 persen menjadi $ 0,7143.

GrahaFX IB Resmi Instaforex Indonesia, aman dan terpercaya.

SIMILAR ARTICLES

NO COMMENTS

Leave a Reply