October 19 2019 22:50 PM
Forex News

0 515

Rupiah-2

Nilai tukar Rupiah semakin terpuruk dari hari ke hari. Mata uang Garuda kini terjebak di rekor terendahnya sejak tahun 1998 silam.

Sejak pembukaan pasar keuangan Indonesia hari Kamis (05/03), Rupiah sudah rapuh di kisaran 13.022 per US Dollar. Kemudian di pertengahan hari, harga di pasar spot menunjukkan kurs USD/IDR di angka 13.025 atau setara pelemahan 25% dibandingkan harga penutupan kemarin. Adapun kurs tengah Bank Indonesia memperlihatkan Dollar dihargai Rp13.022.

Fenomena pelemahan kurs domestik tidak lepas dari kuatnya nilai tukar Dollar terhadap nyaris seluruh mata uang dunia. Indeks Dollar bahkan sudah mencapai level tertinggi dalam satu dasawarsa terakhir yaitu di area 95.50. Nasib IDR diprediksi belum berubah setidaknya sampai pertengahan tahun nanti, karena Federal Reserve Bank Amerika Serikat baru akan menaikkan suku bunganya dari level rendah dekat 0%. Kenaikan suku bunga tersebut akan berujung pada bertambahnya daya tarik aset-aset berbasis Dollar karena menawarkan return yang lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal itu akan menerbangkan dana asing dari pasar keuangan Indonesia kembali ke Amerika sehingga jumlah Dollar semakin berkurang di dalam negeri.

Adapun pelonggaran moneter di Eropa hanya memperburuk keseimbangan di pasar uang karena Euro juga anjlok ke rekor terendahnya. Dari dalam negeri, belum ada sentimen atau laporan domestik yang bisa memicu penguatan Rupiah meski hanya untuk jangka pendek.

1613975_678907712167263_2080419318_nMata uang USD masih mendominasi tekanannya baik terhadap major currencies maupun komoditas. Telah dilaporkan bahwa mata uang USD bergerka menguat pada sesi dua pasar amerika, setelah data PMI Manufaktur Amerika dirilis dengan hasil yang cukup baik dan diikuti oleh pengautan mata uang USD mendekati level tertinggi sejak Januari. Dalam data akhir sesi semalam menunjukkan bahwa PMI Manufaktur Amerika naik pada level 55.1. data dirilis lebih tinggi dari perkiraan dan data sebelumnya pada 54.3 (F) dan 54.3 (P). Telah dilaporkan pula bahwa bursa saham Amerika bergerak menguat bahkan mencetak rekor pada perdagangan saham awal pekan ini.

Telah dilaporkan bahwa Aussie, mata uang Australia itu lazim disebut, telah bergerak menguat. Mata uang Australia tersebut melesat ke kisaran angka 0.7810 apresiasinya, setelah keputusan bank sentral Australia mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 2,25%. Berdasarkan rilis laporan pertemuannya, Reserve Bank of Australia (RBA) mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan mencapai target inflasi. Keputusan tersebut akan dibicarakan pada pertemuan selannjutnya. Reserve Bank of Australia (RBA) menitikberatkan adanya risiko dari sektor properti dengan tren harga perumahan yang beragam di beberapa kota dalam beberapa bulan belakangan. Variasi harga dalam pasar perumahan dapat menjadi sinyal belum stabilnya perekonomian negeri Kangguru tersebut. RBA juga masih melihat tren pertumbuhan domestik yang masih cukup lemah dengan tingkat pengangguran beranjak naik dalam beberapa tahun terakhir. Namun pelemahan nilai tukar domestiknya dianggap akan menjadi kunci untuk menstabilkan perekonomian negara komoditas ini. Rendahnya nilai tukar Aussie dibandingkan negara lain seharusnya dapat mengangkat tingkat ekspornya. Harga komoditas Australia turun 20,6% di bulan Februari, lebih rendah dari penurunan 19,2% di awal tahun. Dilaporka bahwa apresiasi mata uang AUD/USD bertahan di kisaran 0.7810, setelah sempat melesat ke level 0.7839 sesaat setelah keputusan RBA. Sebelum pertemuan, Aussie bertahan di dekat level 0.7770. Dari China dilaporkan, Pemerintah China memutuskan melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga. The People`s Bank of China secara mengejutkan menurunkan suku bunga pinjaman satu tahun dan suku bunga deposito menjadi 5,35 % dan 2,5 %. Langkah itu dilakukan karena meningkatnya tekanan deflasi. Laporan dari PBOC murunkan suku bunga acuan sebesar 25 Bps.

Sementara ini, para pelaku pasar juga masih rentan lakukan aksi jual dalam apresiasi cross mata uang EUR/ JPY. Telah dilaporkan bahwa, angka konsumen zona eropa turun 0,3 % pada Februari 2015 year on year (YoY). Pengangguran di Uni Eropa turun menjadi 11,2 % pada Januari 2015. Manufaktur PMI zona Euro tercatat naik menjadi 51,1 pada Februari 2015. Secara analisa dengan menggunakan acuan grafik 30 menit, untuk apresiasi perdagangan cross mata uang EUR/ JPY tengah mengindikasikan bahwa tekanan jual masih dominan menuju target terdekat di 133.79. Jika seller mendominasi di bawah level tersebut maka memungkinkan akan mengusik target berikutnya di 133.29. Kegagalan skenario tersebut akan mengembalikan EUR/ JPY pada posisi rally menuju level 134.41 hingga level kritis di 134.60. Pergerakkan mata uang USD diperkirakan akan menjadi fokus para pelaku pasar pada sesi perdagangan hari ini.

0 1139

major currency2

Aussie melemah terhadap Greenback dengan pasar fokus pada pertemuan Reserve Bank of Australia (RBA) esok hari dan data perekonomian lokal yang mengecewakan. Pasar memprediksi bank sentral Australia akan kembali memotong suku bunga acuan setelah bulan Februari lalu dipotong menjadi 2%. Jika RBA memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya trader memprediksi Aussie akan rally. Sebaliknya pemangkasan suku bunga untuk menstimulus perekonomian dapat semakin menekan perdagangan Aussie. Greenback sendiri menikmati penguatannya setelah bank sentral China memangkas suku bunga acuannya.

Outlook perekonomian sendiri masih lemah, dengan data terbaru laba operasi perusahaan Australia selama kuartal IV tahun lalu turun 0,2%, mematahkan ekspektasi kenaikan 0,7%. Harga komoditas tahunan negeri Kangguru di bulan Februari juga turun 20,6% dari koreksi penurunan 19,2% di bulan sebelumnya.

Perdagangan pasangan mata uang AUD/USD kini berada di kisaran 0.7775, di dekat level terendah harian 0.7761 dan menjauhi level tertinggi harian 0.7806.