October 19 2019 21:50 PM
Fundamental

0 456

Volatilitas pasar yang semkin kencang di hari Selasa (09/02) ini mengantar Yen mencapai level terkuatnya terhadap Dolar AS sejak akhir tahun 2014, karena pasar ramai-ramai mencari safe-haven seperti Yen. USD/JPY diperdagangkan di level rendah 114.45 pagi ini di sesi perdagangan Tokyo, titik terlemah pasangan mata uang tersebut sejak awal November tahun 2014, sebelum kemudian naik ke angka 114.70 dan mengawali hari Selasa ini di angka 115.85.

Sentimen investor amat lemah hari ini bersama dengan rontoknya bursa saham Jepang. Indeks benchmark Nikkei terjun bebas 4.38 persen ke angka 16,259.44 disusul dengan Topix yang menukik 4.54 persen ke angka 1,317.69.

pihaknya melihat adanya gelembung ekspektasi pasar terhadap kekuatan bank-bank sentral. Para trader mengendurkan pertaruhan mereka akan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS tahun ini masih dalam kaitannya dengan perlambatan ekonomi China. Di samping itu, dampak suku bunga negatif Bank Sentral Jepang juga turut memengaruhi keputusan para trader. Menurut Soichiro Monjoi, ahli strategi di Daiwa SB Investment Ltd yang berpusat di Tokyo yang diwawancarai oleh Bloomberg.

Sementara itu, menurut analisa dari BNZ yang dikutip oleh WBP online, sejak awal pekan ini, penghindaran risiko masih menjadi topik yang dominan di pasar. Aset-aset yang sensitif risiko pada umumnya masih berada di bawah tekanan walaupun data yang dirilis malam tadi tak banyak memberikan pengaruh.

Pergerakan yang terjadi nantinya lebih merupakan pantulan dari masalah kualitas kredit, outlook pendapatan perusahaan, dan siklus pertumbuhan. Dalam lingkungan semacam inilah, lanjut analis BNZ, maka penguatan Yen bukanlah hal yang mengejutkan.

Komentar senada tentang juga diungkapkan oleh Toshihiko Matsuno, analisa SMBC Friend Securities Co. yang dilansir oleh Bloomberg. Yen mengalami kenaikan sementar imbal hasil obligasi AS melorot dan harga emas melonjak. Secara garis besar, Matsuno menyebutkan bahwa apa yang terjadi pada Yen saat ini merupakan sentimen penghindaran risiko.

0 438
ib insta

Dollar sedikit melemah pada hari Senin. Karena pasar memulai minggu ini dengan catatannya yang lebih tenang dan investor memfokuskan perhatian mereka ke pertemuan bank sentral yang akan datang, dollar masih di atas dari level terendah akhir-akhir ini.

Dollar sedikit melemah terhadap rekannya dari Jepang ke level 118.28, namun tidak terlalu jauh dari level level tertinggi dua pekan di 118.88 yang dicapai pada hari Jumat, hanya sehari setelah pasangan mata uang tersebut merosot ke level terendah dalam setahun di 115.97.

Federal Reserve AS secara luas diperkirakan akan meninggalkan suku bunga federal tak berubah di level 0.25-0.50% pada kesimpulan pertemuan kebijakan mereka pada hari Rabu.

Namun, para trader saat ini akan lebih fokus pada apakah kemungkinan dari meredanya inflasi dan gejolak di pasar global akhir-akhir ini dapat mendorong the Fed untuk berikan sinyal kecemasan terhadap AS dan outlook ekonomi global yang mungkin meningkatkan pertanyaan tentang laju pengetatan suku bunga.

Analis mata uang di Brown Brothers Hariman di Tokyo mengatakan bahwa beberapa pelaku pasar mencemaskan kondisi ekonomi China dan rendahnya harga minyak, jadi banyak dari mereka yang akan melihat pernyataan FOMC. Namun untuk hari ini, saya pikir pasar mata uang akan sepi seperti pasar lainnya.

0 515
ib insta
Pound sterling rally terhadap dollar pada Rabu kemarin karena kenaikan rata-rata gaji di Inggris yang melebihi ekspektasi. Di awal perdagangan sesi Asia hari ini, mata uang Inggris ini terlihat melanjutkan penguatan.

Office for National Statistic (ONS) melaporkan rata-rata gaji di Inggris dalam tiga bulan yang berakhir Juli naik sebesar 2,9%, lebih tinggi dari ekspektasi ekonom sebesar 2,5%. Kenaikan rata-rata gaji akan membuat daya beli masyarakat meningkat, yang nantinya dapat mendorong kenaikan inflasi. ONS mengatakan kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 10 Januari 2009.

Data lain yang dirilis ONS menunjukkan pengajuan klaim tunjangan pengangguran naik sebanyak 1.200 di bulan Agustus, sementara tingkat penganguran dalam tiga bulan yang berakhir Juli turun menjadi 5,5%, dari sebelumnya 5,6%.

Disisi lain, jelang keputusan suku bunga The Fed malam ini, dollar mendapat tekanan dari turunnya inflasi bulan Agustus. Sebelum tertuju pada hasil rapat moneter The Fed, pelaku pasar akan melihat data penjualan ritel Inggris sore ini, yang dapat memperngaruhi pergerakan pasangan mata uang GBPUSD secara signifikan.

Hingga pukul 09.35 WIB, GBPUSD menguat dikisaran 1.5512, dengan level terendah harian 1.5491, dan tertinggi 1.5520

0 465

Saham Jepang memperpanjang kerugian pada hari Selasa setelah survei menunjukkan sektor pabrik China menyusut untuk bulan keenam pada bulan Agustus. sementara investor tetap on edge menjelang Key US Data karena lewat seminggu.

Sentimen juga terluka oleh data yang belanja modal yang menunjukkan perlambatan investasi di pabrik dan peralatan oleh perusahaan-perusahaan Jepang.

Nikkei turun 3,2 persen menjadi 18,284.14 pada perdagangan sore hari.

“China terus menjadi sumber kekhawatiran dan data belanja modal Jepang juga sedikit mengempis, tetapi lebih untuk pembuat kebijakan dari orang lain. Fokus langsung bagi investor adalah respon kebijakan di AS”

Pelaku pasar mengatakan investor mengandalkan rilis Jumat US non-farm payrolls data yang sinyal apakah Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga pada bulan September.

Spekulasi atas waktu kenaikan suku bunga diharapkan telah Seesawed, namun pelaku pasar mengatakan Payroll Data yang kuat pada hari Jumat mungkin akan memperkuat ekspektasi kenaikan sekitar September.

Investor meninggalkan Toshiba Corp setelah perusahaan menunda lanjut rilis pendapatannya untuk tahun yang berakhir Maret, mengatakan telah menemukan penyimpangan akuntansi baru. Saham jatuh ke 4,8 persen pada sore hari.

The Broaded Topix turun 3,1 persen menjadi 1,489.95 dan JPX-Nikkei Indeks 400 turun 3,4 persen menjadi 13,352.88. (Tambahan pelaporan oleh Ayai Tomisawa; Editing oleh Jacqueline Wong)